Search

Saturday, June 13, 2026

G u l a

 Gula Pasir, Inilah Manfaat dan Risiko di Baliknya - Alodokter

Alhamdulillah saya dilahirkan dalam keluarga yang gula darahnya normal, saat cek darah, seberapa pun minuman manis yang kami minum dalam sehari. Karena dibiasakan minum teh hangat manis di pagi hari oleh orangtua sejak kami sejak kecil, kami sekeluarga pun biasa membuat minuman teh manis di pagi hari, baik untuk diminum begitu saja, atau diminum setelah sarapan. Di saat-saat lain, jika ingin minum teh, di dapur sudah ada 'cemceman' teh. So, jika ingin bikin teh hangat, hanya tinggal ditambahi air panas, jika ingin es teh, cukup ditambahi es batu. 

Saat kecil, saya ingat bahwa saya nyaris tidak doyan minum air putih karena sama sekali tidak ada rasanya 😀 waktu sekolah, saya juga tidak biasa bawa air minum dari rumah, paling-paling jajan es teh di kantin sekolah saat istirahat, atau setelah pelajaran olahraga. Sehari paling hanya satu kali. Seingat saya, belum lazim orang jualan air mineral di zaman itu.

Ternyata bahwa saya melanjutkan kuliah di kota Jogja adalah satu blessing in disguise. Saya terpaksa minum air putih saat di kos, karena tidak praktis membuat minuman teh. (Saya tidak suka rasa teh celup. Seingat saya, waktu itu baru ada satu merk teh celup: s*** w****. Saya tidak suka rasanya: tidak ada sepet-sepetnya!) Saya benar-benar 'belajar' untuk membiasakan diri minum air putih untuk keperluan sehari-hari saat itu. Satu hal yang di kemudian hari 'menyelamatkan' saya. (Tubuh kita butuh minum air putih 8 gelas sehari kan ya?)

Another advantage bagi saya sendiri adalah sejak kecil saya tidak doyan mie instant. So, jika orang-orang bilang bahwa mie instant adalah makanan favorit anak-anak kos, ini tidak berlaku dalam hidup saya. Saat ngekos, saya rajin masak nasi, sayur dan lauk sendiri karena lebih hemat. Kadang-kadang saja saya beli di warung makan. 

Hari ini saya membaca satu thread seseorang yang ginjal kanannya tidak bisa bekerja dengan baik karena dia hobi sekali makan mie instant dan tidak suka minum air putih karena lebih suka minum air yang berperasa. 

I feel blessed. 

Wednesday, June 10, 2026

Longing

 


In English, we say,

"I miss my home."

But in poetry, we say,

 

"My heart is a song that nobody plays, 

A melody lost in the dust of the days.

Yet humming in silence, I hear it once more— 

The tune of the place that I long to restore."


You

 


The closer you get

The less magical you become

The more I know you

The more pathetic of me to love you

.

..

Therefore

I went away

 

GJ 12.05 10 June 2026


Tuesday, June 09, 2026

Gramedia Jalma Semarang

 


Terakhir aku dan Angie ke GM Semarang, sebelum direnovasi, mungkin sekitar pertengahan tahun 2025. Kondisi lantai 2 terlihat tidak serapi biasanya, banyak space kosong, juga banyak rak buku yang kosong. Pemandangan yang sungguh-sungguh membuatku patah hati. Aku selalu patah hati jika tahu ada sebuah toko buku yang terpaksa tutup karena jumlah pembeli yang turun drastis. Apalagi jika toko buku sebesar GM harus tutup, just imagine how broken my heart would be.

Well, bisa sih beli buku online, tapi keasyikan berkunjung ke toko buku, melihat-lihat judul buku yang ada, dan bisa langsung menyentuh buku-buku tersebut, sungguh tidak tergantikan jika dibandingkan dengan scrolling online store, karena kita hanya bisa memandangi judul-judul buku tersebut tanpa bisa menyentuh buku fisiknya. 

Duluuu, saat di kota Semarang masih ada beberapa toko buku diskon -- salah satunya Toga Mas -- GM adalah toko buku yang memberiku ide buku apa yang ingin aku beli, saat aku iseng lihat-lihat buku di sana. Lalu, aku akan hunting buku yang ingin aku beli itu di beberapa toko buku diskon. Namun, jika tak satu pun toko buku diskon itu menyediakan buku yang ingin aku beli, dengan riang gembira aku akan kembali ke GM, dan beli buku yang kutaksir itu di sana. 😁 

 Beberapa bulan setelah aku patah hati melihat kondisi GM seperti itu, Angie memberitahu bahwa GM Semarang akan melakukan renovasi besar-besaran; GM akan dikembangkan menjadi seperti Gramedia Jalma Melawai. GM akan direnovasi sehingga GM tak lagi hanya sekedar toko buku, namun juga satu lokasi yang menyediakan 'working space' di mana orang-orang bisa bersosialisasi. This info automatically healed my broken heart. 😍

Setelah tutup beberapa bulan untuk renovasi, Gramedia Semarang kembali dibuka untuk umum pada hari Jumat 5 Juni 2026 dan resmi menyandang nama GRAMEDIA JALMA. After visiting this place on Monday 8 June 2026, I think this will be one most favorable place to visit for me! Yay!!! Ada banyak buku yang disediakan free untuk dibaca di tempat, ada colokan buat ngecharge gadget, ber-AC, boleh bawa tumbler sendiri so tidak perlu beli minuman di cafe yang sekarang tersedia di lantai 2. Wonderful, isn't it?

 







PT56 09 June 2026

Sunday, June 07, 2026

Which restroom are you going to?

https://www.zurn.com/us/en/innovation-efficiency/total-restroom-solutions/_jcr_content/root/container_921018048/lkteaser_copy.imagetransformer.90.768.fileReference768.png/1770927998900/total-restroom-solutions-mobile-banner.png 

 

Beberapa hari yang lalu di satu media sosial, seorang dokter menulis keprihatinannya tentang seorang 'trans lesbian' yang memilih masuk ke toilet khusus perempuan. Mengingat ada kasus laki-laki mengenakan 'baju perempuan', masuk ke toilet perempuan, lalu melakukan pelecehan seksual, tentu saja hal ini membuat si dokter tidak terima.

"Yang punya penis, masuklah ke toilet laki-laki. Yang punya vagina, ya masuk ke toilet perempuan." Begitu si dokter menulis.

Sekian tahun lalu, aku pernah membahas hal ini dengan seseorang, laki-laki, yang nampaknya susah menerima 'kenyataan' bahwa manusia tidak bisa hanya dikategorikan 2 jenis: laki-laki berpenis, perempuan bervagina. Dia belum bisa menerima bahwa ada komunitas yang percaya bahwa di dunia ini ada 5 jenis 'gender'. (Please read an article about it in this link.)

Mengingat bahwa tidak semua orang bervagina itu merasa dirinya perempuan, dari penampilannya saja seseorang bisa dianggap terlalu maskulin, dan tidak semua orang berpenis merasa dirinya laki-laki, dan mungkin saja penampilannya menunjukkan seseorang itu 'feminin' aku berpikir bahwa sebaiknya minimal ada 4 jenis toilet yang disediakan di tempat umum. 

(1) toilet untuk mereka yang terlahir memiliki penis dan merasa diri mereka laki-laki

(2) toilet untuk mereka yang terlahir memiliki penis namun merasa diri mereka kurang maskulin

(3) toilet untuk mereka yang terlahir memilik vagina dan merasa diri mereka perempuan

(4) toilet untuk mereka yang memiliki vagina namun merasa diri mereka nampak terlalu maskulin

Mengapa demikian?

Banyak laki-laki merasa tidak nyaman ketika mereka berada di toilet saat mereka melihat laki-laki yang mereka tahu laki-laki itu gay. Mereka merasa khawatir jika si 'gay' ini akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk melakukan semacam pelecehan seksual. Sebaliknya, perempuan yang nampak maskulin pun sering dicurigai akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh saat masuk ke toilet khusus untuk perempuan karena "mereka nampak laki-laki sekali". 

https://media.cnn.com/api/v1/images/stellar/prod/200619190852-public-restroom-coronavirus.jpg?q=w_1600,h_1082,x_0,y_0,c_fill 

Atau, mungkin tempat-tempat umum seperti mall bisa kembali menyediakan toilet yang tidak seperti foto di atas ini. Sediakanlah toilet yang tidak berjajar seperti di atas, melainkan toilet yang 'berdiri' sendiri, seperti di pom bensin zaman dulu itu di mana baik laki-laku maupun perempuan bisa memanfaatkannya. Well, if you know what I mean 😃

PT56 14.36 07 June 2026 

Wednesday, June 03, 2026

'Want' versus 'Must'

 


One most incessantly hot topic of discussion in social medias (especially in Indonesia) is the so-called 'patriarchy'. (More than 2 decades ago, Ayu Utami, one writer who is popular with writing novels about women's rights to be equal, said that patriarchy was an obsolete topic! 2 decades ago!) Nevertheless, in fact, in this era, youngsters even choose to use this term: 'patriarchy' which refers to the meaning of being sexist.

Once in a while I happen to find some threads about this in social medias. This makes me realize that the topic about gender roles in society is still hotly debated. Reading the comments make me aware that no matter what happens, I still find people who are allergic to the term 'feminism' while in fact they do not really understand what feminists have done to increase the equality between men and women.  

Many people still do not understand the difference between 'I want to do this' and 'I must do this'.  And reading comments from people who fail to understand what lies behind the sentences make me realize the danger of the freedom people get online. People tend to write any random things online, and other people will read their 'threads' or anything else as something 'correct' .This is like blind people lead other blind people, and eventually they will harm other people.

I am still not talking about the dangerous use of AI, only less knowledgeable people 'shout' what they wanna tell the world online.

PT56 12.24 03 June 2026 

 

 

Tuesday, June 02, 2026

Dignitas: to live with dignity, to die with dignity.

 


For the first time I heard this organization -- dignitas -- was when I watched ME BEFORE YOU. I thought it was the same thing as euthanasia where the doctor 'gives something' to a terminally ill patient to help the patient end his or her suffering. The permission of doing this can be in the hand of the patient himself or herself or one member family of the patient. 

In fact, Switzerland does not approve the practice of euthanasia, where the patient sometimes seems helpless to determine his or her own life or death. On the contrary, Switzerland legally approves the practice of committing suicide where the patient does it by himself or herself.  Dignitas provides the service to accompany the patient when he or she commits suicide. 

To this point, my heart was broken more into smaller pieces when remembering how Louisa Clark failed to ensure Will that he would find his life meaningful and useful if he chose to go on living. Louisa apparently would love Will no matter what happens (not like Alicia who chose to leave Will and marry his best friend) and accompany him for the rest of their life. Will, on the other hand, loved Louisa so deeply that he didn't want to burden her life by going on living. 

Absolutely understood when nearing his last moment in life, Will wanted to be accompanied by Louisa -- not just his parents -- because he loved her and he was sure that Louisa loved him accordingly.

P.S.:

da*n, I still cannot move on from this movie. 

you perhaps would like to read this writing of mine here.  

https://i.pinimg.com/736x/20/93/73/209373c1a8aec956860621e61c6823aa.jpg 

PT56 12.45