Search

Sunday, January 04, 2026

Christmas Holiday 2025 Day 4 - Waduk Cengklik

 


Minggu 28 Desember 2025

 

Pagi ini kami bertiga molor! Aku kepengen sudah otw ke CFD pukul 06.30 tapi Ranz molor sampai jam 07.00! Biasanya Ranz yang pertama mandi, aku mandi duluan hari itu. Setelah tahu aku sudah mandi, dia baru bangun, lalu mandi. Setelah itu, Angie.

 

Baru jam 07.30 kami ke luar rumah, mana 3 sepeda yang kami naiki semua butuh dipompa bannya. Jadi kudu nuntun dulu sampai tambal ban terdekat: di seberang stasiun Purwosari! Lol. Seperti biasa, kami sarapan nasi liwet (aku dan Angie) sedangkan Ranz sarapan cabuk rambak, satu jenis masakan khas Solo yang tidak bisa aku nikmati.

 

Pulangnya, Angie mampir ngopi di satu café yang lumayan baru, terletak tak jauh dari pool travel yang biasa kami naiki.

 

Siangnya, aku memilih mengajak Angie ke Minoa Café, yang terletak di Timur Waduk Cengklik. Semula, aku mau mengajaknya ke satu lokasi di Klaten, tapi Ranz bilang, "Walah, ini high season, pasti di sana penuh sekali!" Di Minoa Café, ada yang 'baru' yakni PARTY BOAT. Minoa 'membuat' perahu yang lumayan cantik, harga tiket untuk satu penumpang Rp. 20.000,00. perahu baru akan berangkat jika ada minimal 12 penumpang! Kebetulan waktu kami baru sampai, Ranz langsung mencari kabar tentang bagaimana cara naik, dan, perahu sudah mendapatkan 12 penumpang, sehingga kami bertiga diminta untuk segera beli tiket, agar bisa langsung ikut naik.

 

Party boat ini dihiasi sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi spot foto yang cantik. Ada dua lantai. Jangan lupa berfoto di lantai atas juga! Perahu memutari waduk selama kurang lebih 25 menit.



 

Setelah naik perahu, kami baru memesan makan siang. Aku pesan grilled creamy chicken breast dan iced cappuccino, Angie pesan olio oglio dan mineral water, sedangkan Ranz memesan nasi campur Bali. Untuk dessert, kami membeli es krim coklat. It all cost Rp. 209.000,00. bulan Mei yang lalu, saat pertama kali kami ke sini (aku, Ranz, dan Deven), kami dibuat kecewa karena servis yang tidak memuaskan. Saat Ranz complained, oleh manajer, kami diberi voucher discount sebanyak Rp. 100.000,00, yang bisa kami gunakan sampai kapan pun. Maka, hari itu, Ranz cukup membayar seratus sembilan ribu rupiah!

 

Sorenya, aku dan Angie meninggalkan Solo dengan naik travel di jam keberangkatan 19.00. We arrived home around 21.00. Sayonara Surakarta. See ya next time!

 

PT56 20.20 04 January 2026

 

Christmas Holiday 2025 Day 3 - Wonogiri

 

Satu tanaman lucu di Koito Batuga

Sabtu 27 Desember 2025

 

Aku membuka tirai jendela sekitar pukul 05.50. mendung tebal masih menggantung di langit. Tidak bisa berharap akan mendapatkan pemandangan sunrise. Rasanya pengen molor lagi gegara itu, lol, tapi sayang dong, kan ada kolam renang?  Aku menunggu sarapan diantar ke kamar dulu, yang katanya akan diantar jam 07.00. Sembari menunggu, Ranz menawariku 'ngemil' sandwich yang dia titip minta belikan Fitri sehari sebelumnya. Pukul 07.10 sarapan belum datang juga, akhirnya aku siap-siap mengenakan baju renang, lalu ke luar kamar, ditemani Ranz, menuju kolam renang. Setelah warming up, aku nyemplung jam 07.30, aku bilang ke Ranz, "Give me one hour!" ternyata beneran, dia menungguku berenang selama satu jam, dengan duduk-duduk di kursi yang tersedia di samping kolam renang. Pagi itu, practically, aku berenang sendirian! HOW NICE!

 

Jam 08.30 aku meninggalkan kolam renang, balik ke kamar. Mandi, lalu sarapan. Nasi goreng yang aku pesan sudah dingin. Yaaa maklum, aku tinggal berenang selama satu jam, lalu mandi. Tapi, rasanya tetap enak kok.

 

Setelah packing, kami naik ke resto lantai 2, untuk foto-foto.




Jam 11.00 kami turun dari lantai 2, kembali ke kamar, lalu check out. Kami sudah memesan sopir angkot yang kami naiki kemarin untuk datang menjemput. Dia menawari kami untuk dolan ke lokasi yang kami inginkan. Semula kami ingin ke Museum Karst, yang terletak di Pracimantoro. Namun, biaya yang dia berikan sangat tinggi buat kami: Rp. 700.000,00! Akhirnya kami hanya ke Watu Cenik, yang terletak tidak jauh dari Waduk Gajahmungkur.




Dari Watu Cenik, kami langsung ke kota Wonogiri. Fitri kami antar ke 'terminal' Trans Jateng, dia sudah buking travel jam 15.00 ternyata, jadi dia tidak bisa ikut kami makan siang. It was around 12.45. sementara itu, kami bertiga ditawari sopir untuk ke Koito Batuga, satu resto yang terletak tidak jauh dari stasiun, namun trek ke sana cukup menantang: sempit dan tanjakan curam. Resto satu ini memiliki dekorasi yang lain dari pada yang lain! Di sini kami memesan 2 paket dengan jenis masakan yang berbeda. 

 


 

 

FYI, untuk dijemput ke hotel, diantar ke Watu Cenik, lalu ke Koito Batuga, hingga ke terminal Trans Jateng, kami membayar Rp. 300.000,00 ke sopir.  

 

Jam 15.00 kami sudah diantar ke halte/terminal Trans Jateng. Kami sampai terminal Tirtonadi sekitar pukul 16.45. Kami sampai rumah Ranz sekitar jam 17.00.

 

Malamnya, kami bertiga makan penyetan yang terletak tak jauh dari rumah Ranz.

To be continued.

Christmas Holiday 2025 Day 2 - Wonogiri

 


Jumat 26 Desember 2025

 

Pagi ini, kami bertiga -- aku, Ranz dan Angie -- sarapan bubur ayam. Fitri tidak ikut karena dia ingin beli sandwich yang dijual di satu kafe baru yang terletak di Jl. Gatot Subroto, Solo. Kemarin, waktu berjalan kaki menuju Gramedia, Ranz sempat mengajak mampir ke kafe itu, Namun, dia ga jadi beli apa-apa karena sandwich yang dia inginkan sudah sold out. Pagi ini, Fitri ke sana setelah mandi, dengan naik ojek online.

 

Seminggu sebelumnya, saat Ranz buking tiket KA BATARA KRESNA untuk pergi ke Wonogiri, tiket yang berangkat dari stasiun Purwosari sudah habis, Maka Ranz membeli tiket dari Stasiun Kota. Meskipun begitu, kami mencoba gambling, untuk tetap naik KA BK dari stasiun Purwosari. Karena khawatir kami akan ditolak masuk peron -- karena tiket KA yang kami beli menunjukkan kami memulainya dari stasiun Kota -- Ranz punya ide untuk masuk ke peron lewat jalan masuk ke KRL, dengan menggunakan kartu e-wallet.

 

Jam 09.30 kami bertiga sudah sampai di stasiun Purwosari, Fitri akan langsung menyusul. Dengan mudah, kami bisa masuk stasiun/peron. KA BATARA KRESNA sudah 'duduk' manis di peron, lol. Saat kami masuk, semua gerbong sudah penuh penumpang! Tidak terlihat satu pun kursi yang kosong yang bisa kami duduki! Ouwww, ternyata, jika kami bisa 'semudah itu' masuk peron, tentu kami akan berangkat lebih pagi, untuk 'bersaing' dengan yang lain agar mendapatkan tempat tuduk!

 

KA yang kami naiki meninggalkan stasiun tepat jam 10.00! Ada seorang petugas KA yang mengatakan bahwa di gerbong yang paling depan itu, isinya adalah anak-anak TK satu sekolah di Wonogiri, mereka semua akan turun di stasiun Nguter. Well, mungkin kami akan mendapatkan tempat duduk setelah KA sampai di stasiun Nguter.

 

"Stasiun Nguter itu hanya satu stasiun sebelum stasiun Wonogiri!" kata Ranz.

 

Tapi ya mau bagaimana lagi?

 

Untunglah, saat KA sampai di stasiun Kota, ada beberapa penumpang yang berada di gerbong yang kami naiki turun, sehingga kami berempat bisa duduk manis! Lumayan. Perjalanan masih melewati stasiun Sukoharjo - stasiun Nguter baru sampai ke stasiun Wonogiri.

 

FYI, setelah gerbong KA BATARA KRESNA diganti yang baru, perjalanan dari stasiun Purwosari menuju stasiun Wonogiri hanya membutuhkan waktu 1 jam. Dengan gerbong yang sebelumnya, waktu tempuh mencapai 105 menit! Kali ini, kami sudah sampai di stasiun Wonogiri pukul 11.00.

 



Biasanya aku dan Ranz membawa sepeda saat naik KA BK, maka saat keluar dari stasiun kami menuntun sepeda, sehingga tidak ada calo angkot yang menawari kami untuk naik angkot. Kali ini, kami ditawari naik angkot. Ranz yang sudah mencari info di medsos tahu bahwa untuk naik angkot ini, satu orang dikenai biaya Rp. 30.000,00 pulang pergi. Seorang calo bertanya kami akan ke mana. Kami sebut: "Pantai Gading dan Golden Resort." dia memberi harga yang seperti telah diperkirakan Ranz: tigapuluh ribu rupiah per orang. (THERE IS NO ONLINE TAXI IN WONOGIRI!). Ini harga pp ya, jadi kami diantar ke tujuan, lalu dibawa kembali ke stasiun. Aku bilang bahwa kami akan menginap di Golden Resort, maka kami tidak akan naik angkot pp. untuk ini, dia memberi harga per orang duapuluh ribu rupiah. Oke. Kami setuju.

 

Tujuan pertama kami adalah RM Pantai Gading. Sayangnya, saat kami sampai sana, turun hujan, dan kami lihat semua tempat duduk penuh orang-orang yang sedang makan. Ada gazebo yang terlihat kosong, namun karena hujan, gazebo itu tidak terlindung dari air hujan. Plus, tentu saja, kami tidak bisa berjalan-jalan dengan nyaman plus foto-foto. Itu sebabnya Ranz langsung mengambil keputusan untuk pindah ke RM lain, yakni langganan kami makan siang jika dolan ke Wonogiri.

 

Setelah makan siang -- aku, Ranz, dan Fitri memesan ikan nila bakar, Angie memesan ikan nila goreng -- kami langsung minta diantar ke Golden Resort. Sejak pertengahan November, Ranz sudah buking satu kamar untuk family, empat orang. Harga Rp. 850.000,00 per malam. To our surprise, ternyata kami mendapatkan sarapan. Untuk sarapan keesokan hari, aku dan Fitri memesan nasi goreng Hongkong, sedangkan Ranz memesan pancake, dan Angie memesan waffle. Meski jam check-in dinyatakan jam 14.00, kami datang sebelum jam 13.00, kami bisa langsung check-in. entah kamar yang kami kosong sebelumnya, atau yang menyewa meninggalkan lokasi lumayan gasik sehingga pegawai resort bisa dengan cepat membersihkan kamar untuk kami tempati.


Selain kamar ukuran 'family' yang bisa ditempati 4 orang, ada satu jenis kamar lain lagi yakni standard untuk 2 orang. Kamar jenis standard ini memiliki akses langsung menuju kolam renang. Sedangkan yang kamar ukuran family, kami harus keluar kamar, lalu berjalan menuju kolam renang.

 

Hujan terus saja mengguyur, kadang gerimis tipis, kadang hujan cukup deras. Meskipun begitu, sekitar jam setengah 4 aku dan Angie tetap berenang. Fitri tidur, kata Angie. Mungkin dia kecapekan. Oh ya, untuk kamar untuk family, dua tempat tidur ditempatkan di lantai 1 dan lantai 2. Angie dan Fitri kami minta tidur di lantai 2, sedangkan aku dan Ranz di lantai 1, yang memiliki balkon.

 

Angie berenang hanya sebentar, saat hujan menderas, dia langsung keluar dari kolam renang. Aku terus melanjutkan berenang, meski kadang hujan benar-benar deras. Namun, aku baru berenang 30 x 25 meters, Ranz sudah memanggilku untuk berhenti berenang. Tentu aku merasa belum puas, tapi, ya sudahlah, aku 'mentas' dengan harapan jika nanti hujan reda, aku akan berenang lagi. Lol. Sayangnya, sampai malam, hujan terus saja turun.

 

Sekitar pukul 17.30 Angie dan Fitri ke luar hotel, mencari pop mie dan air mineral. Aku yang biasanya tidak pernah tergoda makan pop mie, kali itu, aku ikutan bikin pop mie. Haha …




 

Sekitar pukul 19.30 Ranz mengajak ke resto. Angie dan Fitri tidak ikut, mereka lebih memilih tidur! Malam itu, aku ogah makan sebenarnya, namun aku harus menemani Ranz, ketimbang dia ngambeg, lol. Akhirnya aku memesan buah potong dan jus melon. Sedangkan Ranz memesan lumpia ayam dan coklat hangat.

To be continued.

Christmas Holiday 2025 Day 1

 


Akhirnyaaa … aku dan Ranz punya 'alasan' untuk menginap di Wonogiri! Pertengahan Agustus 2020 saat kami bersepeda ke Waduk Gajahmungkur, kami sudah siap untuk seandainya terpaksa menginap (dengan membawa baju ganti dan alat mandi), namun ternyata hari itu kami langsung bersepeda balik ke Solo. (kisahnya bisa dibaca di link ini.)

 

Mengapa kali ini Wonogiri kami pilih untuk kami kunjungi di libur Nataru 2025 adalah karena Ranz 'menemukan' satu tempat asyik untuk menginap yang terletak tak jauh dari Waduk Gajahmungkur!

 

Kamis 25 Desember 2025

 

Aku dan Angie plus Fitri meninggalkan pool travel langganan jam 07.55. (Ranz memintaku menawari Fitri untuk ikut karena Deven tidak jadi ikut. Dia ikut ayahnya yang ada acara keluarga besarnya ke Tawangmangu.) Travel berjalan lancar, dan kami sampai di pool travel di Jl. Slamet Riyadi Solo jam 09.30. Dari pool, kami naik taksi online menuju rumah Ranz.

 

Rencanaku semula, setelah sampai rumah Ranz dan kami bertiga meletakkan tas bawaan, aku akan langsung mengajak semuanya ke satu café tempat aku dan Ranz dolan di bulan September lalu. Dari sana, aku akan mengajak makan siang di satu resto legendaris Solo yang terletak tepat di samping café itu. Usai makan siang, kami baru akan menuju tujuan utama: kampung batik Kauman. Namun, rencana ini buyar ketika Fitri bilang dia ingin sarapan di RM Tenda **** untuk makan selat. Dia belum sarapan saat berangkat. So, dari rumah Ranz kami berlima -- aku, Angie, Fitri, Ranz dan Deven -- berjalan kaki ke arah kampung batik Laweyan. Di sana ada satu rumah makan baru yang berjualan beberapa jenis masakan khas Solo, termasuk selat. Mengapa tidak ke RM TB? Well, di musim libur panjang begini, pengunjung yang akan makan di sana bisa dipastikan berjubel! Walhasil, kami kudu antri lamaaa.

 

Di 'KUNI' aku memesan selat daging, demikian juga Deven. Angie dan Fitri memesan selat galantin, sedangkan Ranz pesan stoop makaroni. Usai makan, kami sempat berjalan kaki di sekitar situ. Kami sempat 'tergoda' untuk masuk ke satu toko batik karena nama tokonya yang unik: 'batik pria tampan'. Hohoho …

 

Sekitar setengah jam kemudian, saat mendung di langit kian pekat, membuat kami khawatir jangan-jangan kami tidak jadi jalan-jalan di Kauman gegara hujan, maka kami putuskan tidak perlu lama-lama berjalan-jalan di kampung batik Laweyan. Kami langsung memesan taksi online untuk menuju Kauman.

 

To our surprise, sesampai kami di kampung batik Kauman, mendung telah pergi entah kemana. Maka? Amanlah kami berjalan-jalan di sana. Berhubung sedang high season, Kauman ramai sekali; untuk berfoto-foto di satu spot yang lumayan instagrammable, kami harus mengantri! Lol. 

 

Setelah sekitar satu jam kami berjalan-jalan dan berfoto-foto, kami menuju café yang memang ingin aku 'kenalkan' pada Angie. 'Keistimewaan café ini adalah disediakannya buku-buku untuk pengunjung baca saat nongkrong. Well, mirip café Lana, yang terletak tidak jauh dari stasiun Purwosari, tapi di café yang namanya merupakan singkatan dari nama jalan Slamet Riyadi, jika pengunjung duduk di lantai dua, lalu ada KA BATARA KRESNA lewat, kami akan mendapatkan foto yang epik! Sayangnya, saat kami tiba di sana, KA BATARA KRESNA yang lewat dari wonogiri menuju stasiun Purwosari sudah lewat.




 

Di café ini, aku memesan cappuccino dingin, yang lain entah pesan apa, aku tidak ingat, lol. Untuk cemilan, kami memesan pizza dan lumpia ayam. Untuk Deven, aku memesankan grilled chicken + fries. 

 

Kami nongkrong di sini lumayan lama, sekitar 1,5 jam.

 

Dari sana, aku mengajak jalan kaki menuju TB Gramedia. Sama yang dengan yang aku dan Ranz lakukan di bulan September lalu.

 

Menjelang maghrib, kami sudah kembali ke rumah Ranz. It was drizzling.

 

Sekitar jam tujuh, hujan telah berhenti, kami berjalan kaki ke satu rumah makan ayam tim yang terletak tidak jauh dari rumah Ranz. Kami makan malam di sana berempat, Deven tidak ikut karena dia pergi bersama ayahnya. Usai makan malam, kami berjalan kaki ke Wedangan pak Basuki. In my daily routine, sekarang aku sudah jarang minum teh, terutama setelah makan 'besar' mengingat HB-ku rendah. Namun jika ada kesempatan untuk jajan teh nasgitel di pak Basuki, tentu tidak aku lewatkan.

To be continued.