Akhirnyaaa … aku dan Ranz punya 'alasan' untuk menginap di Wonogiri! Pertengahan Agustus 2020 saat kami bersepeda ke Waduk Gajahmungkur, kami sudah siap untuk seandainya terpaksa menginap (dengan membawa baju ganti dan alat mandi), namun ternyata hari itu kami langsung bersepeda balik ke Solo. (kisahnya bisa dibaca di link ini.)
Mengapa kali ini Wonogiri kami pilih untuk kami kunjungi di libur Nataru 2025 adalah karena Ranz 'menemukan' satu tempat asyik untuk menginap yang terletak tak jauh dari Waduk Gajahmungkur!
Kamis 25 Desember 2025
Aku dan Angie plus Fitri meninggalkan pool travel langganan jam 07.55. (Ranz memintaku menawari Fitri untuk ikut karena Deven tidak jadi ikut. Dia ikut ayahnya yang ada acara keluarga besarnya ke Tawangmangu.) Travel berjalan lancar, dan kami sampai di pool travel di Jl. Slamet Riyadi Solo jam 09.30. Dari pool, kami naik taksi online menuju rumah Ranz.
Rencanaku semula, setelah sampai rumah Ranz dan kami bertiga meletakkan tas bawaan, aku akan langsung mengajak semuanya ke satu café tempat aku dan Ranz dolan di bulan September lalu. Dari sana, aku akan mengajak makan siang di satu resto legendaris Solo yang terletak tepat di samping café itu. Usai makan siang, kami baru akan menuju tujuan utama: kampung batik Kauman. Namun, rencana ini buyar ketika Fitri bilang dia ingin sarapan di RM Tenda **** untuk makan selat. Dia belum sarapan saat berangkat. So, dari rumah Ranz kami berlima -- aku, Angie, Fitri, Ranz dan Deven -- berjalan kaki ke arah kampung batik Laweyan. Di sana ada satu rumah makan baru yang berjualan beberapa jenis masakan khas Solo, termasuk selat. Mengapa tidak ke RM TB? Well, di musim libur panjang begini, pengunjung yang akan makan di sana bisa dipastikan berjubel! Walhasil, kami kudu antri lamaaa.
Di 'KUNI' aku memesan selat daging, demikian juga Deven. Angie dan Fitri memesan selat galantin, sedangkan Ranz pesan stoop makaroni. Usai makan, kami sempat berjalan kaki di sekitar situ. Kami sempat 'tergoda' untuk masuk ke satu toko batik karena nama tokonya yang unik: 'batik pria tampan'. Hohoho …
Sekitar setengah jam kemudian, saat mendung di langit kian pekat, membuat kami khawatir jangan-jangan kami tidak jadi jalan-jalan di Kauman gegara hujan, maka kami putuskan tidak perlu lama-lama berjalan-jalan di kampung batik Laweyan. Kami langsung memesan taksi online untuk menuju Kauman.
To our surprise, sesampai kami di kampung batik Kauman, mendung telah pergi entah kemana. Maka? Amanlah kami berjalan-jalan di sana. Berhubung sedang high season, Kauman ramai sekali; untuk berfoto-foto di satu spot yang lumayan instagrammable, kami harus mengantri! Lol.
Setelah sekitar satu jam kami berjalan-jalan dan berfoto-foto, kami menuju café yang memang ingin aku 'kenalkan' pada Angie. 'Keistimewaan café ini adalah disediakannya buku-buku untuk pengunjung baca saat nongkrong. Well, mirip café Lana, yang terletak tidak jauh dari stasiun Purwosari, tapi di café yang namanya merupakan singkatan dari nama jalan Slamet Riyadi, jika pengunjung duduk di lantai dua, lalu ada KA BATARA KRESNA lewat, kami akan mendapatkan foto yang epik! Sayangnya, saat kami tiba di sana, KA BATARA KRESNA yang lewat dari wonogiri menuju stasiun Purwosari sudah lewat.
Di café ini, aku memesan cappuccino dingin, yang lain entah pesan apa, aku tidak ingat, lol. Untuk cemilan, kami memesan pizza dan lumpia ayam. Untuk Deven, aku memesankan grilled chicken + fries.
Kami nongkrong di sini lumayan lama, sekitar 1,5 jam.
Dari sana, aku mengajak jalan kaki menuju TB Gramedia. Sama yang dengan yang aku dan Ranz lakukan di bulan September lalu.
Menjelang maghrib, kami sudah kembali ke rumah Ranz. It was drizzling.
Sekitar jam tujuh, hujan telah berhenti, kami berjalan kaki ke satu rumah makan ayam tim yang terletak tidak jauh dari rumah Ranz. Kami makan malam di sana berempat, Deven tidak ikut karena dia pergi bersama ayahnya. Usai makan malam, kami berjalan kaki ke Wedangan pak Basuki. In my daily routine, sekarang aku sudah jarang minum teh, terutama setelah makan 'besar' mengingat HB-ku rendah. Namun jika ada kesempatan untuk jajan teh nasgitel di pak Basuki, tentu tidak aku lewatkan.
To be continued.


No comments:
Post a Comment