Search

Sunday, January 04, 2026

Christmas Holiday 2025 Day 3 - Wonogiri

 

Satu tanaman lucu di Koito Batuga

Sabtu 27 Desember 2025

 

Aku membuka tirai jendela sekitar pukul 05.50. mendung tebal masih menggantung di langit. Tidak bisa berharap akan mendapatkan pemandangan sunrise. Rasanya pengen molor lagi gegara itu, lol, tapi sayang dong, kan ada kolam renang?  Aku menunggu sarapan diantar ke kamar dulu, yang katanya akan diantar jam 07.00. Sembari menunggu, Ranz menawariku 'ngemil' sandwich yang dia titip minta belikan Fitri sehari sebelumnya. Pukul 07.10 sarapan belum datang juga, akhirnya aku siap-siap mengenakan baju renang, lalu ke luar kamar, ditemani Ranz, menuju kolam renang. Setelah warming up, aku nyemplung jam 07.30, aku bilang ke Ranz, "Give me one hour!" ternyata beneran, dia menungguku berenang selama satu jam, dengan duduk-duduk di kursi yang tersedia di samping kolam renang. Pagi itu, practically, aku berenang sendirian! HOW NICE!

 

Jam 08.30 aku meninggalkan kolam renang, balik ke kamar. Mandi, lalu sarapan. Nasi goreng yang aku pesan sudah dingin. Yaaa maklum, aku tinggal berenang selama satu jam, lalu mandi. Tapi, rasanya tetap enak kok.

 

Setelah packing, kami naik ke resto lantai 2, untuk foto-foto.




Jam 11.00 kami turun dari lantai 2, kembali ke kamar, lalu check out. Kami sudah memesan sopir angkot yang kami naiki kemarin untuk datang menjemput. Dia menawari kami untuk dolan ke lokasi yang kami inginkan. Semula kami ingin ke Museum Karst, yang terletak di Pracimantoro. Namun, biaya yang dia berikan sangat tinggi buat kami: Rp. 700.000,00! Akhirnya kami hanya ke Watu Cenik, yang terletak tidak jauh dari Waduk Gajahmungkur.




Dari Watu Cenik, kami langsung ke kota Wonogiri. Fitri kami antar ke 'terminal' Trans Jateng, dia sudah buking travel jam 15.00 ternyata, jadi dia tidak bisa ikut kami makan siang. It was around 12.45. sementara itu, kami bertiga ditawari sopir untuk ke Koito Batuga, satu resto yang terletak tidak jauh dari stasiun, namun trek ke sana cukup menantang: sempit dan tanjakan curam. Resto satu ini memiliki dekorasi yang lain dari pada yang lain! Di sini kami memesan 2 paket dengan jenis masakan yang berbeda. 

 


 

 

FYI, untuk dijemput ke hotel, diantar ke Watu Cenik, lalu ke Koito Batuga, hingga ke terminal Trans Jateng, kami membayar Rp. 300.000,00 ke sopir.  

 

Jam 15.00 kami sudah diantar ke halte/terminal Trans Jateng. Kami sampai terminal Tirtonadi sekitar pukul 16.45. Kami sampai rumah Ranz sekitar jam 17.00.

 

Malamnya, kami bertiga makan penyetan yang terletak tak jauh dari rumah Ranz.

To be continued.

Christmas Holiday 2025 Day 2 - Wonogiri

 


Jumat 26 Desember 2025

 

Pagi ini, kami bertiga -- aku, Ranz dan Angie -- sarapan bubur ayam. Fitri tidak ikut karena dia ingin beli sandwich yang dijual di satu kafe baru yang terletak di Jl. Gatot Subroto, Solo. Kemarin, waktu berjalan kaki menuju Gramedia, Ranz sempat mengajak mampir ke kafe itu, Namun, dia ga jadi beli apa-apa karena sandwich yang dia inginkan sudah sold out. Pagi ini, Fitri ke sana setelah mandi, dengan naik ojek online.

 

Seminggu sebelumnya, saat Ranz buking tiket KA BATARA KRESNA untuk pergi ke Wonogiri, tiket yang berangkat dari stasiun Purwosari sudah habis, Maka Ranz membeli tiket dari Stasiun Kota. Meskipun begitu, kami mencoba gambling, untuk tetap naik KA BK dari stasiun Purwosari. Karena khawatir kami akan ditolak masuk peron -- karena tiket KA yang kami beli menunjukkan kami memulainya dari stasiun Kota -- Ranz punya ide untuk masuk ke peron lewat jalan masuk ke KRL, dengan menggunakan kartu e-wallet.

 

Jam 09.30 kami bertiga sudah sampai di stasiun Purwosari, Fitri akan langsung menyusul. Dengan mudah, kami bisa masuk stasiun/peron. KA BATARA KRESNA sudah 'duduk' manis di peron, lol. Saat kami masuk, semua gerbong sudah penuh penumpang! Tidak terlihat satu pun kursi yang kosong yang bisa kami duduki! Ouwww, ternyata, jika kami bisa 'semudah itu' masuk peron, tentu kami akan berangkat lebih pagi, untuk 'bersaing' dengan yang lain agar mendapatkan tempat tuduk!

 

KA yang kami naiki meninggalkan stasiun tepat jam 10.00! Ada seorang petugas KA yang mengatakan bahwa di gerbong yang paling depan itu, isinya adalah anak-anak TK satu sekolah di Wonogiri, mereka semua akan turun di stasiun Nguter. Well, mungkin kami akan mendapatkan tempat duduk setelah KA sampai di stasiun Nguter.

 

"Stasiun Nguter itu hanya satu stasiun sebelum stasiun Wonogiri!" kata Ranz.

 

Tapi ya mau bagaimana lagi?

 

Untunglah, saat KA sampai di stasiun Kota, ada beberapa penumpang yang berada di gerbong yang kami naiki turun, sehingga kami berempat bisa duduk manis! Lumayan. Perjalanan masih melewati stasiun Sukoharjo - stasiun Nguter baru sampai ke stasiun Wonogiri.

 

FYI, setelah gerbong KA BATARA KRESNA diganti yang baru, perjalanan dari stasiun Purwosari menuju stasiun Wonogiri hanya membutuhkan waktu 1 jam. Dengan gerbong yang sebelumnya, waktu tempuh mencapai 105 menit! Kali ini, kami sudah sampai di stasiun Wonogiri pukul 11.00.

 



Biasanya aku dan Ranz membawa sepeda saat naik KA BK, maka saat keluar dari stasiun kami menuntun sepeda, sehingga tidak ada calo angkot yang menawari kami untuk naik angkot. Kali ini, kami ditawari naik angkot. Ranz yang sudah mencari info di medsos tahu bahwa untuk naik angkot ini, satu orang dikenai biaya Rp. 30.000,00 pulang pergi. Seorang calo bertanya kami akan ke mana. Kami sebut: "Pantai Gading dan Golden Resort." dia memberi harga yang seperti telah diperkirakan Ranz: tigapuluh ribu rupiah per orang. (THERE IS NO ONLINE TAXI IN WONOGIRI!). Ini harga pp ya, jadi kami diantar ke tujuan, lalu dibawa kembali ke stasiun. Aku bilang bahwa kami akan menginap di Golden Resort, maka kami tidak akan naik angkot pp. untuk ini, dia memberi harga per orang duapuluh ribu rupiah. Oke. Kami setuju.

 

Tujuan pertama kami adalah RM Pantai Gading. Sayangnya, saat kami sampai sana, turun hujan, dan kami lihat semua tempat duduk penuh orang-orang yang sedang makan. Ada gazebo yang terlihat kosong, namun karena hujan, gazebo itu tidak terlindung dari air hujan. Plus, tentu saja, kami tidak bisa berjalan-jalan dengan nyaman plus foto-foto. Itu sebabnya Ranz langsung mengambil keputusan untuk pindah ke RM lain, yakni langganan kami makan siang jika dolan ke Wonogiri.

 

Setelah makan siang -- aku, Ranz, dan Fitri memesan ikan nila bakar, Angie memesan ikan nila goreng -- kami langsung minta diantar ke Golden Resort. Sejak pertengahan November, Ranz sudah buking satu kamar untuk family, empat orang. Harga Rp. 850.000,00 per malam. To our surprise, ternyata kami mendapatkan sarapan. Untuk sarapan keesokan hari, aku dan Fitri memesan nasi goreng Hongkong, sedangkan Ranz memesan pancake, dan Angie memesan waffle. Meski jam check-in dinyatakan jam 14.00, kami datang sebelum jam 13.00, kami bisa langsung check-in. entah kamar yang kami kosong sebelumnya, atau yang menyewa meninggalkan lokasi lumayan gasik sehingga pegawai resort bisa dengan cepat membersihkan kamar untuk kami tempati.


Selain kamar ukuran 'family' yang bisa ditempati 4 orang, ada satu jenis kamar lain lagi yakni standard untuk 2 orang. Kamar jenis standard ini memiliki akses langsung menuju kolam renang. Sedangkan yang kamar ukuran family, kami harus keluar kamar, lalu berjalan menuju kolam renang.

 

Hujan terus saja mengguyur, kadang gerimis tipis, kadang hujan cukup deras. Meskipun begitu, sekitar jam setengah 4 aku dan Angie tetap berenang. Fitri tidur, kata Angie. Mungkin dia kecapekan. Oh ya, untuk kamar untuk family, dua tempat tidur ditempatkan di lantai 1 dan lantai 2. Angie dan Fitri kami minta tidur di lantai 2, sedangkan aku dan Ranz di lantai 1, yang memiliki balkon.

 

Angie berenang hanya sebentar, saat hujan menderas, dia langsung keluar dari kolam renang. Aku terus melanjutkan berenang, meski kadang hujan benar-benar deras. Namun, aku baru berenang 30 x 25 meters, Ranz sudah memanggilku untuk berhenti berenang. Tentu aku merasa belum puas, tapi, ya sudahlah, aku 'mentas' dengan harapan jika nanti hujan reda, aku akan berenang lagi. Lol. Sayangnya, sampai malam, hujan terus saja turun.

 

Sekitar pukul 17.30 Angie dan Fitri ke luar hotel, mencari pop mie dan air mineral. Aku yang biasanya tidak pernah tergoda makan pop mie, kali itu, aku ikutan bikin pop mie. Haha …




 

Sekitar pukul 19.30 Ranz mengajak ke resto. Angie dan Fitri tidak ikut, mereka lebih memilih tidur! Malam itu, aku ogah makan sebenarnya, namun aku harus menemani Ranz, ketimbang dia ngambeg, lol. Akhirnya aku memesan buah potong dan jus melon. Sedangkan Ranz memesan lumpia ayam dan coklat hangat.

To be continued.

Christmas Holiday 2025 Day 1

 


Akhirnyaaa … aku dan Ranz punya 'alasan' untuk menginap di Wonogiri! Pertengahan Agustus 2020 saat kami bersepeda ke Waduk Gajahmungkur, kami sudah siap untuk seandainya terpaksa menginap (dengan membawa baju ganti dan alat mandi), namun ternyata hari itu kami langsung bersepeda balik ke Solo. (kisahnya bisa dibaca di link ini.)

 

Mengapa kali ini Wonogiri kami pilih untuk kami kunjungi di libur Nataru 2025 adalah karena Ranz 'menemukan' satu tempat asyik untuk menginap yang terletak tak jauh dari Waduk Gajahmungkur!

 

Kamis 25 Desember 2025

 

Aku dan Angie plus Fitri meninggalkan pool travel langganan jam 07.55. (Ranz memintaku menawari Fitri untuk ikut karena Deven tidak jadi ikut. Dia ikut ayahnya yang ada acara keluarga besarnya ke Tawangmangu.) Travel berjalan lancar, dan kami sampai di pool travel di Jl. Slamet Riyadi Solo jam 09.30. Dari pool, kami naik taksi online menuju rumah Ranz.

 

Rencanaku semula, setelah sampai rumah Ranz dan kami bertiga meletakkan tas bawaan, aku akan langsung mengajak semuanya ke satu café tempat aku dan Ranz dolan di bulan September lalu. Dari sana, aku akan mengajak makan siang di satu resto legendaris Solo yang terletak tepat di samping café itu. Usai makan siang, kami baru akan menuju tujuan utama: kampung batik Kauman. Namun, rencana ini buyar ketika Fitri bilang dia ingin sarapan di RM Tenda **** untuk makan selat. Dia belum sarapan saat berangkat. So, dari rumah Ranz kami berlima -- aku, Angie, Fitri, Ranz dan Deven -- berjalan kaki ke arah kampung batik Laweyan. Di sana ada satu rumah makan baru yang berjualan beberapa jenis masakan khas Solo, termasuk selat. Mengapa tidak ke RM TB? Well, di musim libur panjang begini, pengunjung yang akan makan di sana bisa dipastikan berjubel! Walhasil, kami kudu antri lamaaa.

 

Di 'KUNI' aku memesan selat daging, demikian juga Deven. Angie dan Fitri memesan selat galantin, sedangkan Ranz pesan stoop makaroni. Usai makan, kami sempat berjalan kaki di sekitar situ. Kami sempat 'tergoda' untuk masuk ke satu toko batik karena nama tokonya yang unik: 'batik pria tampan'. Hohoho …

 

Sekitar setengah jam kemudian, saat mendung di langit kian pekat, membuat kami khawatir jangan-jangan kami tidak jadi jalan-jalan di Kauman gegara hujan, maka kami putuskan tidak perlu lama-lama berjalan-jalan di kampung batik Laweyan. Kami langsung memesan taksi online untuk menuju Kauman.

 

To our surprise, sesampai kami di kampung batik Kauman, mendung telah pergi entah kemana. Maka? Amanlah kami berjalan-jalan di sana. Berhubung sedang high season, Kauman ramai sekali; untuk berfoto-foto di satu spot yang lumayan instagrammable, kami harus mengantri! Lol. 

 

Setelah sekitar satu jam kami berjalan-jalan dan berfoto-foto, kami menuju café yang memang ingin aku 'kenalkan' pada Angie. 'Keistimewaan café ini adalah disediakannya buku-buku untuk pengunjung baca saat nongkrong. Well, mirip café Lana, yang terletak tidak jauh dari stasiun Purwosari, tapi di café yang namanya merupakan singkatan dari nama jalan Slamet Riyadi, jika pengunjung duduk di lantai dua, lalu ada KA BATARA KRESNA lewat, kami akan mendapatkan foto yang epik! Sayangnya, saat kami tiba di sana, KA BATARA KRESNA yang lewat dari wonogiri menuju stasiun Purwosari sudah lewat.




 

Di café ini, aku memesan cappuccino dingin, yang lain entah pesan apa, aku tidak ingat, lol. Untuk cemilan, kami memesan pizza dan lumpia ayam. Untuk Deven, aku memesankan grilled chicken + fries. 

 

Kami nongkrong di sini lumayan lama, sekitar 1,5 jam.

 

Dari sana, aku mengajak jalan kaki menuju TB Gramedia. Sama yang dengan yang aku dan Ranz lakukan di bulan September lalu.

 

Menjelang maghrib, kami sudah kembali ke rumah Ranz. It was drizzling.

 

Sekitar jam tujuh, hujan telah berhenti, kami berjalan kaki ke satu rumah makan ayam tim yang terletak tidak jauh dari rumah Ranz. Kami makan malam di sana berempat, Deven tidak ikut karena dia pergi bersama ayahnya. Usai makan malam, kami berjalan kaki ke Wedangan pak Basuki. In my daily routine, sekarang aku sudah jarang minum teh, terutama setelah makan 'besar' mengingat HB-ku rendah. Namun jika ada kesempatan untuk jajan teh nasgitel di pak Basuki, tentu tidak aku lewatkan.

To be continued.

Tuesday, December 09, 2025

The New Fort Willem I, Ambarawa

 

kisah ngepit bisa dibaca di link ini

Pertama kali aku dolan ke benteng peninggalan Belanda yang terletak di Ambarawa ini 5 Februari tahun 2017. Tidak sengaja ke sana saat itu. Dalam rangka 'mempersiapkan' event besar yang digawangi KomseliS (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) yaitu Jamselinas ke-7, kawan-kawan KomseliS mengadakan acara pit-pitan di Ambarawa. So? Agenda utama ya pit-pitan DI Ambarawa (bukan KE Ambarawa lo ya, lol).

 

Kali kedua aku ke sini, juga secara tidak sengaja. Aku dan keluarga iseng-iseng saja dolan ke Ambarawa, setelah mengunjungi rumah seorang kawan Mom yang tinggal di daerah Srondol, Semarang 'atas'. This was some time in 2018. Sayangnya waktu itu aku tidak kepikiran untuk menulis kisahnya di blog, jadi ya terlupa begitu saja. Satu hal yang aku ingat: tidak mudah menemukan lokasi benteng. Dari sana, kami makan siang di Banaran, Bawen.

 

Setelah mengunjungi Fort Van den Bosch, Ngawi bulan April 2025, dan mengunggah beberapa foto di media sosial, seorang kawan menulis komentar, "Fort Willem I juga akan direnovasi dalam waktu dekat loh mbak." Wahhh … boleh juga nih.

 

Ternyata tidak perlu menunggu lama. Di pertengahan bulan November 2025, reels tentang benteng ini bertebaran di media sosial; sudah selesai direnovasi dan terbuka untuk umum mulai tanggal 15 November 2025. (Bandingkan dengan benteng Van den Bosch yang butuh bertahun-tahun untuk direnovasi, lalu dibuka untuk umum.)

 

Minggu 07 Desember 2025

 

Aku, Angie, dan Fitri menuju dolan ke Fort Willem I. Kami janjian untuk bertemu di pom bensin yang terletak di ujung tanjakan Gajahmungkur sekitar pukul 07.20. Dari sana, dua sepeda motor langsung melaju menuju Ambarawa. Cuaca pagi itu cerah -- meski malamnya turun hujan lebat -- sehingga kami sangat bersemangat dalam perjalananan. Aku yang biasanya mudah mengantuk jika duduk di belakang Angie yang sibuk 'bekerja' mengendalikan setang sepeda motor, lol, tumben pagi itu, aku blas tidak merasa mengantuk, meski aku tidak minum kopi sebelumnya.

 

Ternyata setelah direnovasi, lokasi Fort Willem I dengan mudah kami 'temukan', lol. Setelah di pertigaan Bawen kami belok kanan, di traffic light berikutnya, kami belok kiri, ke arah jalan lingkar Ambarawa. Terus susuri jalan tersebut, sampai petunjuk lokasi terlihat. YOU WILL NOT MISS IT as long as you are not sleepy on the way. Haha …

 

Btw, menuju pertigaan Bawen, aku sudah melihat banyak pesepeda di sisi kiri jalan. Ada yang naik road bike, mountain bike, hingga folding bike. Sesampai di tempat parkir Fort Willem I yang luas sekali itu, aku baru ngeh kalau para pesepeda itu menuju lokasi benteng peninggalan Belanda ini!

 

Aku, Angie, dan Fitri telah sampai di lokasi sekitar pukul 08.20. Lokasi parkir sudah lumayan terisi berbagai jenis kendaraan. Kekhawatiran bahwa mungkin benteng belum dibuka untuk umum 'sepagi' itu langsung sirna! Ternyata di hari Sabtu dan Minggu, benteng sudah siap dikunjungi pukul 06.00! Aku tidak tahu apakah para pesepeda yang menuju ke benteng juga masuk ke lokasi atau hanya nongkrong-nongkrong di luar, sambil foto-foto.

 

Sekitar pukul 08.35 kami bertiga sudah masuk. Harga tiket di akhir pekan dibanderol Rp. 15.000,00 untuk mereka yang hanya ingin berjalan-jalan di kawasan benteng, sedangkan yang juga ingin masuk ke area di mana ada mobil-mobil jadul dipamerkan, bisa membeli tiket 'terusan' seharga Rp. 23.000,00. Jika berkunjung di hari-hari kerja (Senin - Jumat) harga tiket lebih murah limaribu rupiah.

 

 

Area Fort Willem I jauh lebih luas ketimbang area Fort Van den Bosch. Jika di Fort Van den Bosch, sebelum beli tiket masuk, di area parkir, kita bisa langsung menemukan beberapa warung yang berjualan jajanan. Di Fort Willem I, pengunjung harus masuk lokasi dulu. But don't worry, di dalam bangunan benteng, dengan mudah kita bisa menemukan banyak resto maupun kedai yang berjualan jajanan (snacks maupun makanan 'berat') dan minuman.

 

Kami bertiga meninggalkan lokasi sekitar pukul 12.15. Otw kembali ke Semarang, kami 'mampir' ke satu resto yang bernama Angon Jiwo. Setelah melewati pertigaan Bawen, belok ke arah Semarang. Dari sini, kami langsung mengambil posisi kanan, karena di belokan pertama, kami belok ke arah situ. Aku perhatikan nama jalannya Jl. Menteri Supeno. Resto AJ masih lumayan jauh dari jalan raya, tapi aku tidak sempat menghitung kira-kira berapa, dengan trek naik turun 'menantang' (a.k.a tajam, apalagi bagi yang naik sepeda!) Permukaan jalan yang basah memberi 'kabar' bahwa sebelum kami sampai sana, lokasi ini sudah 'dihujani'. Well, memang langit terlihat gelap, saat memandang ke arah 'bawah' (Ungaran), kami melihat penampakan kabut di kejauhan.

 

Begitu kami sampai di Angon Jiwo, gerimis turun, hingga menderas. Lokasi resto ini cukup terpencil dan 'mblusuk' bagiku, pemandangannya lumayan bagus, dan karena masih terletak di area Bawen, hawanya cukup sejuk, apalagi saat hujan turun. Meski terpencil, tidak berarti resto ini sepi pengunjung lo ya. Saat kami sampai, sudah banyak mobil yang terparkir di tempat parkir, juga banyak sepeda motor. Satu keistimewaan resto yang mengusung konsep ala-ala Bali ini -- menurut Angie -- diners tidak perlu menunggu lama: tak lama setelah kami pesan, pesanan kami telah siap diantarkan. Aku pesan satu porsi nasi ayam taliwang dan wedang lemongrass hangat; Angie pesan satu porsi mie goreng dan wedang lychee tea hangat; sedangkan Fitri pesan satu porsi nasi campur Bali dan wedang uwuh hangat. Harganya? Untuk ketiga macam pesanan ini, kami merogoh kocek Rp. 317.000,00 harga yang cukup sesuai dengan rasa masakannya yang istimewa.

 

Hujan sempat reda sebentar saat kami usai makan siang, seolah memberi kesempatan pada kami bertiga -- juga para diners lain -- untuk foto-foto di halaman luar.

 

Dalam perjalanan pulang, hujan kembali turun mengiringi, sampai masuk kota Ungaran. Setelah meninggalkan gapura Selamat Jalan/Selamat Datang kota Ungaran untuk masuk kota Semarang, kami tidak melihat adanya tanda-tanda hujan telah turun di kawasan ini. OwH! Ternyata hujan hanya turun di kawasan Bawen sampai 'downtown' kota Ungaran saja.

 

Honestly, aku sempat berpikiran untuk sekalian mengajak Angie ke POJ City, menikmati senja di pinggir pantai. Capek? ya biar sekalian capeknya. 😁 tapi ternyata aku tidak tega bilang ke Angie tentang keinginanku ini. Andai tidak turun hujan sih, mungkin saja kami bisa langsung menggeber kendaraan ke arah pantai, tapi ... ya begitulah. hohoho ... 

 

PT56 12.51 09 December 2025

 



Monday, December 08, 2025

Fort Willem I, Ambarawa (foto)

Berikut penampakan (sebagian) benteng Willem 1 yang terletak di Ambarawa setelah direnovasi. Foto dijepret hari Minggu 7 Desember 2025.

Harga tiket 

Rp. 10.000,00 (hanya benteng), Rp. 18.000,00 (terusan) weekdays (Senin - Jumat)

Rp. 15.000,00 (hanya benteng), Rp. 23.000,00 (terusan) weekend (Sabtu - Minggu)

Jam buka

08.00 - 20.00 (weekdays) 06.00 - 20.00 (weekend)

























Wednesday, October 15, 2025

EVERYDAY

 


EVERYDAY – PHIL COLLINS

 

[Verse 1]
I got lost, couldn't find my way
And I guess there's nothing more to say
Love can make you blind, make you act so strange
But I'm here and here I'll stay
So everyday I cry (Everyday)
Yes, everyday I fall (Everyday)
Do you ever wonder why (Everyday)
Why I love everything about you

 

[Chorus]
But everyday I say I'll try
To make my heart be still
Till then every way there is to cry
Ourselves to sleep we will

[Verse 2]
It picked me up, knocked me off my feet
I've got no way to explain
Still I love you, love you, love you, but this fire inside
Will never see the light of day
So everyday goes by (Everyday)
And everyday I fall (Everyday)
It makes me wonder why (Everyday)
My life's worth nothing without you

 

[Chorus]
But everyday I say I'll try
To make my heart be still
'Cause every way there is to cry
Ourselves to sleep we will

[Bridge]
You'll never know, no, no, no, no, no
You'll never know just how close we were
You'll never know, no, no, no, no, no
You'll never know, no, you'll never see

 

[Verse 3]
The book closes and we try to forget
But I know that things won't change
Ooh, how we feel, how life goes on
And that seems so strange
And so the light fades away (Everyday)
Try, try, try as I may (Everyday)
I can't stop thinking about you (Everyday)
It seems my life's worth nothing without you

[Chorus]
But everyday I say I'll try
To make my heart be still
Til' then every way there is to cry
Ourselves to sleep we will

 

[Outro]
Everyday, everyday, you know I try so hard
Everyday, everyday, ooh, it gets a little harder
Everyday, everyday, you know I try so hard
Everyday, everyday, ooh, it gets a little harder
Everyday, everyday, you know I try so hard