"When you are labeled as too intense, over sensitive, and have too many emotions, be thankful." (Lala Bohang, The Book of Imaginary Beliefs, page 31)
*****
alarm berbunyi pukul 05.05. dengan ogah-ogahan aku meraih hape yang aku letakkan di atas rak buku, di atas ranjang. dengan mata terbuka sebelah, aku cek apakah ada message masuk.
"helloooo queen of bapeeeer. banguuuun. sudah subuhan belum?"
demikian bunyi message yang masuk ke Michaela (ini nama gadget yang aku beli di tahun 2021) sekitar 10 menit sebelumnya. hah, sialan, doi menyebutku queen of baper. aku jadi kepikiran, apa alasannya menyebutku baper yak? perasaan aku cool enough. 😆 aku pengen protes dengan label itu, tapi kok itu berarti aku mengiyakan pernyataannya bahwa aku baperan yaaa. 😠😝 so? ya sudahlah. aku cuekin saja.
*****
setelah kurang lebih satu bulan aku meninggalkan media sosial, siang hari itu, aku tergoda untuk membuka satu medsos -- thread -- setelah dapat satu notif yang cukup provokatif: sang mantan presiden yang juga dikenal sebagai tukang prihatin turut terseret kasus ijasah palsu mantan presiden ketujuh.
membaca beberapa komentar yang ada di thread itu ternyata membuatku kesal dan tersulut emosi. Maka dengan cepat aku tekan tombol X di ujung kanan atas untuk menutup media sosial satu itu.
aku pun kembali nyuekin segala hiruk pikuk peristiwa kekinian yang membuat orang-orang merasa perlu unjuk diri kepada dunia (maya) bahwa mereka tidak ketinggalan zaman.
dan, ketika melanjutkan membaca buku Lala Bohang itu aku menyadari satu hal: pernyataan doi beberapa tahun lalu itu ternyata benar adanya: I am the queen of baper. dan satu hal yang paling pas kulakukan -- agar tidak baper melulu -- adalah mengabaikan segala media sosial!
MS48 14.20 12 February 2026
No comments:
Post a Comment