Search

Wednesday, May 20, 2026

Transportasi online

 

Sependek ingatan saya, transportasi online ini mulai memasyarakat sekitar 10 tahun yang lalu, tahun 2016. Awalnya, suara pro kontra santer terdengar; terutama antara ojek pangkalan dan ojek online. Satu ketika dulu, komunitas ojek (menggunakan kendaraan sepeda motor) pangkalan 'susah ditembus': tidak mudah untuk masuk ke dalam komunitas itu. Tidak sembarang orang bisa menjual jasa menjadi tukang ojek di sembarang tempat. Keberadaan ojek online dengan menggunakan aplikasi gojek atau grab, atau pun maxim memudahkan siapa pun yang tidak punya pekerjaan tetap namun memiliki kendaraan sendiri untuk mencari uang. 

Selain itu, yang kontra menyatakan bahwa kendaraan bermotor ini tidak aman dijadikan 'transportasi umum'. Saat itu, saya abstain saja, tidak menolak juga tidak menerima. Namun, jika ada orang-orang di sekitar saya yang dengan keukeuh menyatakan ketidaksetujuannya dengan keberadaan transportasi 'umum' online ini saya mengatakan bahwa keberadaan transportasi umum online ini lebih memudahkan sebagian orang untuk mendapatkan pekerjaan, tidak perlu susah-susah agar bisa diterima di satu komunitas ojek pangkalan. Selain itu, kenyataan bahwa transportasi online ini telah memudahkan perjalanan Angie tatkala dia pergi ke luar kota -- tanpa saya -- tentu membuat saya sangat mengapresiasi keberadaannya.

Baru menjelang akhir tahun 2021 saya memiliki aplikasi transportasi online ini di gadget; saat saya harus sering pulang pergi ke Solo untuk fisioterapi karena otot kaki bermasalah. Jika biasanya saya membawa sepeda lipat saat pergi ke luar kota, saat itu, saya tidak bisa melakukannya. Fisioterapis saya menengarai bahwa permasalahan otot di kaki saya disebabkan oleh posisi kaki saya yang tidak aman alias tidak tepat saat mengendarai sepeda, selama puluhan tahun! So? Saya disarankan untuk sementara menghindari naik sepeda.

Tentu saja kemudahan transportasi online ini membuat saya semakin sering memanfaatkannya hingga sekarang. 

Satu tahun yang lalu, saya dan Ranz saya dolan ke satu destinasi wisata di Solo. Karena waktu itu kami berenam, Ranz pesan taksi online untuk berenam. Ketika sang driver ngechat Ranz, "ada berapa penumpang?" Ranz nampak gusar, "why the hell he asked me such a question? orang kita pesan mobil untuk berenam ya jelas kita berenam lah. Kalau pun kita hanya berlima, atau kurang dari itu, ya gapapa kan?" Saya cuma manggut-manggut, sambil heran juga, mengapa kastemer harus ditanyai seperti itu yak.

Nah, beberapa hari yang lalu, saya pergi dengan Angie, adik, dan keponakan. Kami berlima. Tentu saja saya memesan taksi online dengan mobil berkapasitas untuk 6 orang. Tidak lama kemudian, sang driver bertanya, "untuk berapa orang?" Nah lo! akhirnya saya mengalaminya sendiri! Saya jawab pendek saja, "6."

Saat mobil datang -- toyota veloz -- si driver berkata, "yang berempat duduk di satu baris saja ya." Dalam hati saya berpikir, "Lah, saya bayar lebih mahal itu biar kami berlima bisa duduk nyaman kok malah disuruh berdempet-dempetan." Dengan tegas saya menjawab, "Jangan. Biar yang dua orang duduk di baris belakang." Driver bilang, "Soalnya, jika duduk di baris belakang, tidak ada 'space' yang cukup untuk kaki." Lah, saya kian heran. Jika dia tahu kalau kondisi mobilnya seperti itu, seharusnya dia hanya mengambil pesanan kastemer yang hanya untuk 4 orang kan ya?"

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRUHbNRC0i2PFM20kPiqV4uq2H_bOfT82qZbMHeJ67mse09Nf58qFE5TIAAHwO5E6-E0_7EVGSjMBoBT-nVpS1btd1e4p-7tR1D5nf36Q&s=10
dari luar nampak besar ya, tapi kok ternyata nganu yak?

 

 

No comments: