Search

Wednesday, May 20, 2026

Validasi Diri 2

 


Baru saja di satu media sosial aku membaca curhatan seorang, laki-laki. Dia terpaksa melaporkan seorang perempuan yang rencananya akan dia nikahi di bulan Mei 2026 ini ke kepolisian. Perempuan itu ternyata telah 'membelanjakan' uang di tabungan yang harusnya dipakai untuk biaya resepsi, tanpa sepengetahuannya. Selain itu, perhiasan emas yang telah dia beli sebagai mas kawin pun lenyap. Ditambah lagi, perhiasan emas milik ibunya yang dia titipkan kepada si perempuan untuk dijual -- demi menambah dana untuk resepsi -- pun raib. Perhiasan emasnya raib, uangnya pun tidak jelas ke mana juntrungnya.

 Laki-laki yang curhat ini menulis bahwa si perempuan semula ngekos di rumahnya -- bisnis ibunya: rumah kos-kosan -- lalu mereka mulai dekat, sampai si perempuan bisa ngekos secara gratis, bahkan untuk makan pun ditanggung oleh si ibu. Perempuan ini nampak sangat innocent, lemah lembut, yang membuat si laki-laki ini berpikir tentu karakternya pun begitu: lugu, lemah lembut, tidak mungkin akan menjadi seorang kriminal.

Di antara sekian banyak komentar, aku tertarik pada satu komentar, "Memang ya laki-laki itu butuh validasi diri bahwa dia itu bisa menjadi pahlawan untuk melindungi perempuan yang lugu dan lemah."

Berbicara tentang validasi ini, saya teringat pada kasus para perempuan yang menganggap diri bisa menjadi pahlawan dengan tetap memacari laki-laki yang 'bermasalah': misal merokok, addicted to drugs, atau yang lebih kekinian: ketagihan judi online. Atau satu masalah 'klasik': bagi kaum relijiyes, ada perempuan yang tidak keberatan memacari atau (sampai) menikahi laki-laki yang tidak bisa mengaji atau tidak biasa melakukan ritual keagamaan karena dia yakin dia akan bisa membimbing si laki-laki agar bisa menjadi seorang Muslim yang kaffah.  (Shhtttt, I am talking about myself, the old Nana, long time ago, lol.) 

PT56 14.56 20 Mei 2026 

No comments: